You are here
Home > Tips & Trik > Tips Mendaki Gunung Pada Hari Kemerdekaan Indonesia

Tips Mendaki Gunung Pada Hari Kemerdekaan Indonesia

Bulan Agustus ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, sehingga banyak dibuka pendakian massal untuk mengikuti upacara bendera di puncak gunung. Di Jawa Tengah, setidaknya ada 6 gunung yang biasa menjadi tujuan pendakian massal, yaitu Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, Slamet, dan Lawu. Masing-masing memberikan pengalaman petualangan alam yang berbeda, namun sama-sama menyenangkan, dan bagi kebanyakan orang, membuat kecanduan.

Pendaki pemula yang ingin mengikuti pendakian massal maupun sendiri untuk mengibarkan bendera pada Hari Kemerdekaan Indonesia di puncak gunung, ada baiknya menyimak tips berikut ini agar perjalanan aman. Check this out!

Tiket Transportasi

Jika pendaki dari luar kota dan ingin ke Gunung  pasti dibutuhkan kendaraan sebagai alat transportasi untuk menuju kesana. Nah, bus AKAP adalah transportasi yang murah untuk pendaki yang ingin merasakan nyaman di jalan akan tetapi tidak perlu khawatir dengan budget.

Perlengkapan standar

Peralatan Mendaki Gunung - BUSTIKET

Mengenakan jaket. Sebaiknya pilih yang berbahan ringan tetapi tebal dan cukup hangat. Hindari jaket berbahan jeans, karena selain tidak kedap udara dingin, bahan ini cukup tebal, berat dan sulit kering jika terkena air. Warna yang disarankan adalah warna-warna cerah, seperti kuning, merah, oranye, karena warna ini mudah dikenali dari jauh seandainya pendaki tersesat.

Membawa ransel, tenda, matras dan kantung tidur. Perlengkapan outdoor ini wajib bagi setiap pendaki untuk sejenak beristirahat dan berlindung dari udara dingin yang bisa berkisar sekitar 5 derajat Celsius pada musim kemarau. Tidak harus membeli, pendaki bisa menyewa semuanya di rental perlengkapan outdoor, jika hanya sesekali naik gunung.

Memakai alas kaki yang nyaman. Sepatu yang menutup kaki lebih disarankan untuk pendakian malam hari daripada sandal outdoor. Selain lebih hangat, sepatu lebih optimal melindungi kaki dari sengatan atau gigitan binatang di tanah, seperti ular, dan batuan yang membuat tersandung.

Membawa lampu senter. Alat ini wajib ada jika mendaki malam hari, dan bila perlu bawa cadangan batere. Atau jika menggunakan senter lampu led, pastikan setrum sudah terisi penuh sebelum mendaki.

Membawa perlengkapan memasak dan kompor lapangan. Ini perlu bagi yang membawa makanan mentah dari bawah dan berencana menyantap makanan hangat di puncak gunung. Peraturan pendakian biasanya melarang pendaki menyalakan api unggun untuk memasak karena sisa bara bisa menyebabkan kebakaran hutan.

Perbekalan minimum

Perlengkapan Mendaki Gunung - BUSTIKET

Membawa air minum. Air adalah bawaan terberat dalam ransel, tetapi bekal ini adalah utama. Setiap orang punya kebiasaan minum yang tidak sama, tetapi untuk pendakian satu malam, sebaiknya membawa minimal dua liter. Beberapa pendaki yang tidak ingin dibebani bawaan berat biasanya hanya membawa air secukupnya. Mereka berharap mengisi ulang botolnya di mata air yang ditemui di sepanjang jalur pendakian. Namun cara ini tidak disarankan bagi pemula yang belum mengenal medan, karena beberapa sumber air kering pada musim kemarau.

Membawa makanan, seperti roti dan mie instan, dan juga obat-obatan P3K. Tetapi khusus di Lawu, tidak di gunung lain, ada sebuah warung yang menjual makanan dan minuman, namanya Warung Mbok Yem yang terletak di jalur pendakian di bawah puncak. Konon, warung ini merupakan warung makan tertinggi di Indonesia. Jadi, pendaki Lawu yang kehabisan logistik tak perlu cemas, tinggal siapkan uang saja. Jika ada, bawa cokelat atau gula merah di saku jaket. Cemilan itu baik untuk menambah stamina selama pendakian.

Membawa kantong plastik sampah. Ini yang tidak boleh ketinggalan. Menurut Suryanti, masih banyak pendaki yang abai terhadap lingkungan dan meninggalkan sampah di puncak maupun pos-pos pendakian. Di Merapi, ada aturan bahwa setiap pendaki yang tidak membawa turun kantong sampahnya, akan dikenai sanksi ketika pengambilan kartu identitasnya di posko pendakian Selo. Pendaki yang baik adalah yang tidak meninggalkan apapun di gunung, kecuali jejak kakinya, dan tidak mengambil apapun kecuali foto.

Mematuhi setiap aturan pendakian

Pendaki diwajibkan berjalan mengikuti jalur pendakian yang dilengkapi dengan petunjuk, tidak boleh mencari jalur alternatif atau jalur yang biasa digunakan petani dan pencari rumput.

Menurut Suryanti, banyak pendaki bertemu petani di jalan dan mereka disarankan ke jalur memotong melalui jalur kecil, tetapi malah justru tersesat.

Dalam pendakian massal, setiap pendaki pemula sebaiknya tidak memisahkan diri dari rombongan dan tetap mengikuti instruktur.

Pendaki juga dilarang menyerang dan menyakiti satwa di hutan, tidak boleh pula menangkap dan membawanya turun. Jika ketahuan pendaki bisa dijerat hukuman pidana dan denda karena melanggar UU Konservasi.

Pendaki juga dilarang mengambil atau memetik vegetasi endemik hutan gunung. Kasus ini jamak terjadi di gunung-gunung yang terdapat bunga edelweiss. Biasanya pendaki yang tidak tahan godaan mengambil dan membawanya turun.

Pendaki sebaiknya berkemah di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Setiap gunung memiliki paraturan masing-masing, termasuk lokasi yang diizinkan untuk mendirikan kemah. Di Merapi, pendaki hanya boleh mendirikan tenda dan menginap di Pasar Bubrah – daerah padang terbuka sekitar satu kilometer dari puncak Garuda – dan di larang mendaki sampai puncak.

Pendaki dilarang berbuat keributan, membawa minuman beralkohol, dan narkoba. Mereka juga diwajibkan mematuhi semua aturan yang sudah diuraikan di posko pendakian. Setiap gunung punya pantangan yang unik terkait soal mitos dan legenda setempat. Tetapi biasanya intinya sama, pendaki harus memiliki niat baik, tetap rendah hati, dan selalu berdoa.

Kita boleh percaya atau tidak, tetapi tidak ada salahnya ikuti saran SAR dan petugas di lapangan yang lebih tahu medan, daripada berlagak gagah-gagahan tetapi malah berujung petaka.

Istirahat yang cukup sebelum pendakian sangat disarankan. Bagi pendaki dari luar kota yang masih lelah setelah perjalanan jauh, sebaiknya istirahat atau tidur sejenak di posko pendakian.

Membawa bendera ke puncak

Menurut Marjianto “Ipung” Karim, Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Solo yang sudah beberapa kali membentangkan bendera berukuran raksasa di beberapa gunung di Indonesia, bendera berukuran besar biasanya menyulitkan rombongan pendaki. Bahan bendera sebaiknya dipilih bahan parasut yang ringan. Itu pun kalau ukurannya cukup besar, bobotnya bisa lebih dari 50 kilogram, harus menggunakan tandu dan dibawa bergantian.

Semakin banyak orang, semakin bagus untuk bergantian membawa bendera. Namun, jika ada dana lebih, ada cara lain untuk membawa bendera dengan menyewa porter. Petani di sekitar lereng atau kaki gunung yang biasa mencari rumput biasanya bisa disewa. Mereka rata-rata memiliki stamina yang bagus dalam urusan memanggul barang naik turun gunung.

Nah, semoga tips tersebut dapat membuat planning Anda untuk mengibarkan bendera merah putih pada Hari Kemerdekaan Indonesia di puncak gunung dapat berjalan lancar. Merdeka!

 

BUSTIKET .COM
BUSTIKET.COM - Penyedia layanan pemesanan tiket bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) di Indonesia. BUSTIKET.COM, Gak Antri, Gak Ribet !
https://bustiket.com

Similar Articles

Top